Delegasi Indonesia mengunjungi Turki untuk Halal Expo 2024. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa momen ini penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam industri halal global, mengingat pertumbuhan pesat permintaan produk halal di pasar internasional (jurnas.com).
Industri produk halal, mencakup makanan, minuman, kosmetik, farmasi, dan pariwisata, telah berkembang pesat secara global. Diperkirakan mencapai USD 3,3 triliun pada tahun 2023, sektor ini mencerminkan permintaan yang meningkat untuk barang dan jasa sesuai hukum diet Islam. Dengan pertumbuhan populasi Muslim, industri halal menjadi komponen penting dalam ekonomi global, dengan beberapa negara mendominasi pasar.
Malaysia dikenal sebagai pemimpin dalam industri halal, dan selalu menduduki peringkat pertama dalam Indikator Ekonomi Islam Global. Dengan standar halal dan sistem sertifikasi yang komprehensif yang didukung oleh Malaysia Halal Development Corporation (HDC), negara ini telah menjadi pusat global untuk produk dan layanan halal, termasuk ekspor makanan dan pariwisata halal.
Setelah Malaysia, Uni Emirat Arab (UEA) adalah pemain utama yang memanfaatkan lokasi strategisnya sebagai jembatan antara Timur dan Barat. Dengan inisiatif seperti Pusat Pengembangan Ekonomi Islam Dubai (DIEDC), UEA telah menjadi pusat perdagangan halal, fokus pada inovasi dan teknologi dalam ekonomi halal.
Arab Saudi, sebagai tempat kelahiran Islam dan rumah bagi Mekkah dan Madinah, memiliki pengaruh besar di pasar halal. Sebagai importir utama makanan halal, negara ini telah berinvestasi signifikan dalam logistik dan manajemen rantai pasokan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat di dalam negeri dan Timur Tengah.
Turki menduduki peringkat keempat dalam Indikator Ekonomi Islam Global, menggabungkan warisan Islam dan lokasi strategis antara Eropa dan Asia untuk mendominasi ekspor halal di sektor makanan, farmasi, dan kosmetik. Negara ini juga berperan penting dalam pariwisata halal, menarik jutaan wisatawan Muslim setiap tahun.
Meskipun memiliki populasi Muslim terbesar, Indonesia masih terbatas dalam industri halal global, menempati peringkat kelima dalam Indikator Ekonomi Islam Global, di bawah Malaysia, Arab Saudi, dan UEA.
Pangsa pasar halal global Indonesia saat ini sekitar 13%, menunjukkan potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan. Meskipun telah ada kemajuan dalam pengembangan industri halal, tantangan seperti infrastruktur yang terbatas, kurangnya integrasi teknologi, dan branding global yang lemah masih menghambat pertumbuhannya.
Pasar domestik Indonesia yang luas, dengan lebih dari 229 juta Muslim, mendukung pengembangan ekonomi halal. Pemerintah fokus pada pariwisata halal, ekspor makanan halal, dan keuangan Islam. Strategi untuk meningkatkan daya saing internasional meliputi penguatan standar sertifikasi halal global, memberdayakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), investasi dalam teknologi untuk efisiensi rantai pasokan, dan kolaborasi global untuk meningkatkan ekspor.
Sumber:
Strategi Memperkuat Daya Saing Kosmetik Indonesia
Keunggulan dan Tantangan Bansos Pemberdayaan Masyarakat
Prospek Cerah Pipa Seamless, 11 Rekomendasi untuk Pemerintah dan Swasta
Sritex, Belajarlah dari Korea Selatan Selamatkan Hyundai dan Samsung
Sebelum Pailit, Ekspor Sritex Turun Drastis, Ini Penyebabnya
Indonesia Bisa Tiru 5 Negara Ini untuk Selamatkan Sritex
Langkah Selamatkan Sritex, Atasi Krisis Bahan Baku
Artikel Lain