Image
Pabrik Sritex/Kredit: sritex.co.id

Sebelum Pailit, Ekspor Sritex Turun Drastis, Ini Penyebabnya

BERITA EKONOMI | Penulis: NGARTO FEBRUANA | Published: 29 November 2024 |

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyoroti ekspor Sritex dan menyatakan bahwa Kementerian Perindustrian akan memantau ketersediaan bahan baku untuk memastikan operasi normal dan mencegah pemutusan hubungan kerja (Kompas.com). Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam mengatasi tantangan, termasuk akses bahan baku dan pemulihan operasional (Tempo.co).

Wamenperin Faisol Riza mengakui bahwa penurunan ekspor Sritex disebabkan oleh masalah rantai pasokan dan memburuknya kondisi keuangan. Ia menekankan komitmen pemerintah untuk mendukung Sritex dalam melanjutkan operasi yang optimal dan meningkatkan kinerja pasar globalnya (Bisnis.com).

Pernyataan Wamenperin Faisol Riza menunjukkan perhatian pemerintah terhadap situasi Sritex dan upaya untuk memulihkan serta meningkatkan ekspornya.

Sebelum pailit, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) mengalami penurunan signifikan dalam ekspor. Pada 2022, nilai ekspor mencapai USD 300 juta dengan volume 30 juta meter kain. Namun, pada 2023, nilai ekspor diperkirakan hanya USD 150 juta, menunjukkan penurunan drastis.

Penurunan ini disebabkan oleh tantangan rantai pasokan, kesulitan memperoleh bahan baku, dan kondisi keuangan yang memburuk, yang menyulitkan Sritex mempertahankan kinerja ekspor sebelum dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Niaga Semarang pada 24 Oktober 2024.

Volume dan nilai ekspor Sritex menurun akibat meningkatnya persaingan global. Perusahaan menghadapi tekanan dari tekstil impor yang harganya lebih murah, terutama dari Tiongkok dan Vietnam, sehingga produk lokal sulit bersaing di pasar domestik dan internasional (goodstats.id; voi.id).

Ekspor tekstil Indonesia, termasuk Sritex, stagnan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023, volume ekspor Sritex diperkirakan hanya USD 150 juta, jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (goodstats.id; voi.id).

Permintaan global untuk produk tekstil terpengaruh oleh kondisi ekonomi yang tidak stabil dan dampak pandemi COVID-19, mengakibatkan penurunan permintaan di pasar internasional serta menurunnya volume dan nilai ekspor Sritex [cnbcindonesia.com].

Sritex menghadapi tantangan dalam hal inovasi dan adaptasi terhadap tren pasar global. Respons yang lambat terhadap perubahan permintaan konsumen dapat menyebabkan hilangnya pangsa pasar internasional (goodstats.id).

Persaingan global yang ketat dan faktor lainnya telah signifikan menurunkan volume dan nilai ekspor Sritex.


Berita Terkait:

Indonesia Bisa Tiru 5 Negara Ini untuk Selamatkan Sritex
Langkah Selamatkan Sritex, Atasi Krisis Bahan Baku
Sritex, Belajarlah dari Korea Selatan Selamatkan Hyundai dan Samsung