PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) menghadapi tantangan besar sebelum dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 24 Oktober 2024. Perusahaan tersebut memiliki total kewajiban sekitar US$ 1,6 miliar (Rp 25,04 triliun), terutama dari pinjaman bank dan obligasi berbunga tinggi.
Sritex menghadapi penurunan pendapatan yang signifikan karena pandemi COVID-19 dan persaingan tekstil global yang ketat, yang menyebabkan kesulitan keuangan. Sebelum dinyatakan pailit, Sritex gagal memenuhi kewajiban utang kepada kreditor, termasuk PT Indo Bharat Rayon, yang mengajukan pailit, yang menunjukkan kesulitan keuangan perusahaan.
Sritex menghadapi tantangan operasional, termasuk masalah rantai pasokan dan akses bahan baku, yang memperburuk situasi keuangan. Upaya restrukturisasi utang melalui homologasi tidak berhasil, sehingga perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya dan akhirnya memutuskan untuk pailit.
Keputusan pailit memperburuk kondisi Sritex, yang kesulitan mengimpor bahan baku. Stok yang ada hanya cukup untuk beberapa minggu, dan akses perusahaan terhadap izin usaha serta fasilitas impor terhambat, menghentikan proses importasi. Setelah pailit, Bea Cukai membekukan semua fasilitas Sritex, termasuk akses ke kawasan berikat. Bahan baku yang tertahan di Bea Cukai tidak dapat dikeluarkan tanpa persetujuan kurator, membuat proses pemulihan izin dan akses menjadi rumit dan memakan waktu.
Meskipun tingkat utilisasi produksi hanya 65%, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan masih ada harapan untuk menyelamatkan dan mengembangkan industri tekstil di Indonesia, dengan dukungan dari kementerian.
Berbagai negara telah memberikan dukungan modal untuk menyelamatkan perusahaan yang pailit. Contohnya, selama krisis keuangan 2008, pemerintah AS meluncurkan program TARP untuk membantu bank dan perusahaan besar seperti General Motors. Di Jerman, dukungan diberikan kepada Volkswagen setelah skandal emisi, sementara Prancis membantu Air France-KLM selama pandemi COVID-19. Italia mendukung Alitalia, dan Korea Selatan memberikan bantuan kepada perusahaan besar seperti Hyundai dan Samsung selama krisis keuangan Asia akhir 1990-an.
Dukungan modal pemerintah sering mencakup pinjaman, jaminan, atau investasi langsung untuk membantu perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan agar dapat bertahan dan beroperasi kembali.
Sumber:
Krisis Bahan Baku Sritex: Produksi Hanya Bertahan Tiga Minggu, Kemenperin Terus Pantau
Sebelum Pailit, Ekspor Sritex Turun Drastis, Ini Penyebabnya
Langkah Selamatkan Sritex, Atasi Krisis Bahan Baku
Sritex, Belajarlah dari Korea Selatan Selamatkan Hyundai dan Samsung