Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menegaskan komitmen pemerintah untuk mengatasi krisis di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Kementerian Perindustrian akan mengambil langkah konkret untuk merevitalisasi sektor ini dan mencegah PHK massal. Diberitakan Kabarbursa.com, Wamenperin Faisol Riza juga mengusulkan insentif bagi pelaku industri TPT untuk mengurangi biaya logistik dan bahan baku.
Akses bahan baku menjadi kendala bagi PT Sritex, industri tekstil terbesar di Asia Tenggara yang kini pailit. Sritex menghadapi tantangan operasional, termasuk masalah rantai pasokan, yang memperburuk situasi keuangan. Stok bahan baku saat ini hanya cukup untuk produksi tiga pekan. Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan bahwa Kementerian Perindustrian akan memantau ketersediaan bahan baku untuk memastikan operasi normal dan mencegah pemutusan hubungan kerja (Kompas.com). Ia juga menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam mengatasi tantangan ini.
Krisis keuangan Asia akhir 1990-an mengguncang ekonomi banyak negara, termasuk Korea Selatan. Dua konglomerat terbesar, Hyundai dan Samsung, menghadapi tantangan besar tetapi berhasil bertahan dan memperkuat posisi mereka setelah krisis.
Hyundai, konglomerat di bidang otomotif, konstruksi, dan manufaktur berat, menghadapi tantangan signifikan yang mendorong restrukturisasi besar-besaran. Pada tahun 2000, Hyundai Motor Group menjadi entitas independen, yang berkonsentrasi pada sektor otomotif.
Hyundai, seperti chaebol lainnya, menghadapi tekanan dari tingkat utang yang tinggi, dengan pemerintah Korea Selatan mendesak perusahaan untuk mengurangi utang dan meningkatkan efisiensi.
Hyundai memanfaatkan restrukturisasi ini untuk meningkatkan daya saing global, terutama di sektor otomotif, dan dalam dekade berikutnya, Hyundai Motor Group menjadi salah satu produsen mobil terbesar di dunia.
Samsung, terutama melalui Samsung Electronics, menghadapi tantangan berat selama krisis, tetapi strategi inovatifnya membantunya keluar sebagai pemain yang lebih kuat.
Meskipun krisis, Samsung terus berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan, terutama di sektor semikonduktor, yang membuahkan hasil dengan kepemimpinan pasar chip memori pada awal 2000-an. Perusahaan juga menutup atau menjual divisi bisnis yang tidak menguntungkan.
Samsung Electronics mengalihkan fokusnya ke pasar internasional untuk mengurangi ketergantungan pada pasar domestik yang melemah.
Pemerintah Korea Selatan berperan penting dalam membantu konglomerat besar seperti Hyundai dan Samsung bertahan dari krisis melalui restrukturisasi utang, reformasi keuangan, dan kebijakan industri proaktif.
Hyundai dan Samsung menunjukkan bagaimana perusahaan besar dapat bertahan dari krisis melalui adaptasi, inovasi, dan restrukturisasi. Meskipun krisis keuangan Asia berdampak parah pada Korea Selatan, perusahaan-perusahaan raksasa ini memanfaatkannya untuk menyempurnakan strategi mereka dan meningkatkan daya saing global, yang melambangkan kebangkitan ekonomi negara tersebut dan keberhasilan internasional.
Sumber:
Sebelum Pailit, Ekspor Sritex Turun Drastis, Ini Penyebabnya
Indonesia Bisa Tiru 5 Negara Ini untuk Selamatkan Sritex
Langkah Selamatkan Sritex, Atasi Krisis Bahan Baku
Artikel Lain