Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) RI, Faisol Riza, mengatakan pemerintah menyambut baik rencana yang disampaikan Chery Motor untuk mengusung taksi terbang dan bus terapung ke Indonesia. Hal itu dikatakan Wamenperin saat menerima kunjungan PT Chery Motor Indonesia di Kantor Kemenperin, Jakarta, Kamis, 12 Desember 2024. Namun, menurut Faisol Riza, hal itu membutuhkan kajian mendalam dan penyesuaian dengan regulasi Kementerian Pertahanan dan Kementerian Perhubungan.
Sebelumnya, pada Agustus lalu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan taksi terbang yang akan menjadi salah satu transportasi di Ibu Kota Nusatara (IKN) baru sabatas uji coba dan riset. Sebab, menurut Budi, taksi terbang itu belum mendapatkan rekomendasi dari organisasi penerbangan sipil atau ICAO.
Seperti beberapa negara lain, Indonesia mulai tertarik taksi terbang atau mobil terbang yang berpotensi besar untuk mengatasi kemacetan dan meningkatkan konektivitas antarwilayah. Taksi terbang bisa menjadi solusi transportasi alternatif bagi Jakarta, Surabaya, dan Bandung dalam mengatasi kemacetan parah mengingat moda ini cepat dan efisien dengan memanfaatkan ruang udara, sehingga mengurangi beban pada jalan raya. Dalam kajiannya, Sheikh Shahriar Ahmed dan kawan-kawan (2020) menyoroti keunggulan mobil terbang karena secara efektif menggabungkan karakteristik ideal dari pesawat dan mobil. Menurut mereka, secara khusus, mobil terbang jauh lebih mudah bermanuver dan tidak akan terlalu rentan terhadap kemacetan lalu lintas saat melintasi wilayah udara tiga dimensi dibandingkan dengan jalan darat dua dimensi (Soffar, 2018).
Transportasi alternatif ini juga menjadi solusi untuk meningkatkan konektivitas antarwilayah, khususnya di daerah terpencil atau yang sulit dijangkau oleh transportasi darat. Taksi terbang sangat relevan untuk perjalanan bisnis atau situasi darurat karena mampu memangkas waktu perjalanan secara signifikan dibandingkan dengan transportasi darat atau laut.
Dalam kondisi darurat medis, taksi terbang dapat berfungsi sebagai ambulans udara. Dengan kemampuan untuk lepas landas dan mendarat di area terbatas, taksi terbang mampu membawa pasien ke rumah sakit dengan cepat, terutama di daerah terpencil atau saat kemacetan menghambat ambulans darat. Hal ini dapat menjadi terobosan dalam layanan kesehatan darurat di Indonesia.
Kehadiran taksi terbang dapat mendorong pengembangan sektor teknologi di Indonesia, termasuk industri manufaktur, perangkat lunak, dan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian daya listrik.
Keberhasilan taksi terbang sangat bergantung pada kesiapan regulasi, teknologi, infrastruktur, serta penerimaan masyarakat. Pengoperasian taksi terbang memerlukan regulasi yang matang untuk memastikan keamanan penerbangan dan operasionalnya. Hal ini mencakup perizinan, pengawasan, dan pengaturan ruang udara. Menurut kajian Ahmed et al. (2020) mengutip Lineberger et al. (2018) mengatakan evolusi mobil terbang akan berdampak besar pada berbagai kebijakan dan standar yang mengatur pengembangan, pengujian, evaluasi, validasi, dan penyebaran teknologi di masa mendatang.
Taksi terbang membutuhkan investasi besar dalam pengadaan kendaraan dan pembangunan infrastruktur seperti vertiport (bandara kecil untuk taksi terbang). Biaya operasionalnya juga diperkirakan tinggi, yang dapat membatasi aksesibilitas bagi masyarakat umum.
Sementara itu, teknologi pendukung harus dipersiapkan matang dan juga pengembangan sumber daya manusia yang mampu mengoperasikan dan memelihara teknologi ini. Indonesia juga harus memikirkan pengembangan desain kendaraan yang efisien, teknologi berkelanjutan, termasuk baterai listrik dengan dampak lingkungan minimal seperti yang banyak dilakukan perusahaan di Eropa.
Adopsi teknologi baru ini juga menghadapi dari sisi penerimaan masyarakat. Ahmed dan kawan-kawan (2020) menekankan evaluasi dan analisis statistik persepsi publik terhadap teknologi transportasi canggih ini menimbulkan tantangan metodologis yang signifikan dalam hal heterogenitas yang tidak teramati dan ketidakstabilan temporal (Mannering dan Bhat, 2014; Mannering et al., 2016; Fountas et al., 2018; Mannering, 2018). Sejumlah penelitian terkini telah menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap potensi manfaat dan kekhawatiran dari penggunaan mobil terbang di masa depan, serta masalah keselamatan dan keamanan terkait, memiliki banyak segi, dan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosio-demografis (Eker et al., 2019, 2020a). Persepsi masyarakat juga mencakup apakah masyarakat umum bersedia menerima dan membayar mobil terbang sebagai kendaraan pribadi dan/atau sebagai layanan mobilitas bersama.
Keamanan dan keselamatan juga mencakup prosedur yang sesuai untuk mengudara (lepas landas) dan kembali ke darat (pendaratan), dan persyaratan analisis risiko keselamatan yang kompleks untuk menentukan logistik tentang bagaimana mobil terbang harus diatur oleh regulasi (Ahmed et al., 2020). Dari sudut pandang regulasi, Ahmed dan kawan-kawan mengatakan banyak penelitian tambahan diperlukan untuk memastikan bahwa sistem otonom baru untuk mengoperasikan, menavigasi, dan mengendalikan mobil terbang dilengkapi dengan redundansi (sistem cadangan), dan memiliki kemampuan "mode aman" (yaitu, pengambilan keputusan "saat bepergian") jika mereka menghadapi situasi yang tidak biasa.
Aspek keselamatan lain adalah operasional selama kondisi cuaca buruk (misalnya hujan lebat, angin kencang). Simulasi dan pengujian langsung untuk menentukan ambang batas lingkungan operasional yang aman dalam hal visibilitas, kecepatan angin, intensitas presipitasi, dan lain-lain untuk berbagai jenis mobil terbang akan diperlukan untuk membuat peraturan.
Mobil terbang akan sangat otomatis, terkomputerisasi, dan kemungkinan terhubung ke jaringan terenkripsi untuk tujuan navigasi. Sistem seperti itu akan mengamanatkan kebijakan untuk perlindungan terhadap kejahatan siber (misalnya, akses jarak jauh yang tidak sah melalui Trojan dan malware, serangan DDoS yang mencegah akses jaringan).
Karena itulah uji coba yang transparan dan edukasi masyarakat menjadi perhatian agar menciptakan kepercayaan terhadap keamanan dan kenyamanan taksi terbang. Seperti halnya Korea Selatan, yang memasukkan taksi terbang dalam "K-UAM (Urban Air Mobility) Roadmap, taksi terbang diuji di area terbatas untuk memastikan sistem dapat berjalan dengan aman sebelum diperluas. Pemerintah Dubai, Uni Emirat Arab, mengadakan demonstrasi publik untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap keamanan teknologi ini. Adapun di Amerika Serikat, perusahaan seperti Joby Aviation telah melakukan uji coba ekstensif di bawah pengawasan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) untuk memastikan keamanan.
Referensi:
Keunggulan dan Tantangan Bansos Pemberdayaan Masyarakat
Prospek Cerah Pipa Seamless, 11 Rekomendasi untuk Pemerintah dan Swasta
Sritex, Belajarlah dari Korea Selatan Selamatkan Hyundai dan Samsung
Sebelum Pailit, Ekspor Sritex Turun Drastis, Ini Penyebabnya
Indonesia Bisa Tiru 5 Negara Ini untuk Selamatkan Sritex
Langkah Selamatkan Sritex, Atasi Krisis Bahan Baku
Artikel Lain