Oleh Sugeng Bahagijo | Direktur Eksekutif RPK
Indonesia memiliki peluang untuk mengikuti jejak industrialisasi Korea Selatan dan Taiwan sebagai peta jalan untuk menjadi negara maju. Model industrialisasi kedua negara ini dapat menjadi referensi berharga bagi Indonesia dan negara lain yang ingin mencapai kemajuan serupa.
Jepang telah berhasil membangun kembali industrinya setelah Perang Dunia II, meluncurkan produk nonmiliter yang kompetitif seperti mobil, elektronik, dan kendaraan komersial. Inti dari pencapaian ini adalah strategi proaktif negara tersebut dalam menciptakan pasar swasta (marketcraft), daripada secara pasif menunggu mekanisme pasar berkembang, seperti yang dicatat oleh Steven K. Vogel dalam karyanya, "Marketcraft: How Governments Make Markets Work."
Pengalaman Korea Selatan dan Taiwan menyerupai kisah Cinderella masa kini dalam sektor industri. Narasi yang memukau ini menunjukkan bagaimana kedua negara itu, yang dulunya sebagian besar adalah agraris dengan tingkat pendidikan rendah (SD-SMP), telah mengatasi berbagai tantangan untuk bertransformasi menjadi negara industri maju dalam waktu sangat singkat, hanya tiga dekade sejak tahun 1970-an. Lompatan dramatis ini jauh melampaui sejarah industrialisasi negara-negara Barat, yang biasanya membutuhkan waktu 40 hingga 100 tahun untuk mencapai kemajuan serupa.
Meskipun Korea Selatan dan Taiwan masing-masing mengadopsi pendekatan yang unik dan konteks sejarah yang berbeda, mereka memiliki beberapa kesamaan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Korea Selatan cenderung lebih mengandalkan konglomerat besar yang dikenal sebagai chaebol, sedangkan Taiwan berfokus pada pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) dan diversifikasi industri. Taiwan memiliki sistem politik yang lebih demokratis lebih awal daripada Korea Selatan, yang mengalami pemerintahan otoriter selama periode awal industrialisasi.
Lompatan dramatis Korea Selatan jauh melampaui sejarah industrialisasi negara-negara Barat.
Berikut beberapa ciri utama kebijakan dan pendekatan dalam pelaksanaan industrialisasi di Korea Selatan dan Taiwan.
1. Intervensi Pemerintah yang Kuat. Negara menciptakan pemain pasar dan membantu agar industri bisa tumbuh dan menciptakan lapangan kerja. Pemerintah Korea Selatan, terutama di bawah kepemimpinan Park Chung-hee, memainkan peran yang sangat sentral dalam mengarahkan perekonomian. Pemerintah mendukung konglomerat besar yang dikenal sebagai chaebol (seperti Samsung, Hyundai, dan LG) melalui kebijakan insentif, subsidi, serta pembiayaan. Negara mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang dianggap strategis, seperti baja, otomotif, elektronik, dan teknologi informasi. Di Taiwan, pemerintah juga memainkan peran penting tetapi dengan pendekatan yang sedikit berbeda. Taiwan berfokus pada pengembangan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dan mendorong diversifikasi industri. Pemerintah mendirikan kawasan industri dan pusat penelitian untuk membantu perusahaan mengakses teknologi dan meningkatkan kapasitas produksi.
2. Ekspor sebagai Mesin Pertumbuhan. Kedua negara ini mengadopsi strategi industrialisasi yang berorientasi ekspor. Mereka memanfaatkan pasar internasional sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi, mengimpor teknologi dan komponen yang diperlukan, lalu memproses dan mengekspornya kembali sebagai produk jadi. Produk-produk elektronik, tekstil, dan otomotif menjadi andalan ekspor yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
3. Investasi dalam Pendidikan dan Keterampilan. Di Korea Selatan, bidang pendidikan menempati prioritas tinggi dalam kebijakan nasional, dengan fokus pada peningkatan literasi dan keterampilan teknis yang dibutuhkan dalam industri. Hal ini menciptakan tenaga kerja yang sangat terampil, yang menjadi aset penting dalam mendukung transformasi industri negara. Taiwan juga menekankan pendidikan, terutama dalam bidang teknologi dan sains. Investasi besar-besaran dalam pendidikan menghasilkan tenaga kerja yang kompeten, yang mendukung pertumbuhan industri teknologi tinggi seperti semikonduktor, di mana Taiwan kini menjadi pemain utama global.
4. Reformasi Agraria dan Pembangunan Pedesaan. Pada tahap awal industrialisasi, Korea Selatan melakukan reformasi agraria yang mendistribusikan tanah kepada para petani, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan produksi pangan. Reformasi ini juga memberikan basis modal bagi perkembangan sektor industri melalui penjualan hasil tani. Taiwan melakukan reformasi agraria serupa, yang mendistribusikan tanah kepada petani dan mengurangi pengaruh pemilik tanah besar. Hal ini menciptakan stabilitas sosial dan meningkatkan kesejahteraan, yang pada gilirannya mendukung ekspansi industri.
5. Pembangunan Infrastruktur. Pembangunan infrastruktur yang kuat menjadi dasar penting bagi industrialisasi di kedua negara. Investasi besar dalam infrastruktur fisik seperti jalan, pelabuhan, dan listrik memungkinkan industri untuk berkembang dengan cepat dan efisien.
6. Adaptasi Teknologi dan Inovasi. Korea Selatan telah beralih dari sekadar mengimpor teknologi menjadi mengembangkan teknologinya sendiri melalui investasi signifikan dalam penelitian dan pengembangan (R&D). Transformasi ini terlihat jelas dalam pengembangan industri berteknologi tinggi, khususnya di sektor elektronik dan otomotif. Demikian pula Taiwan memprioritaskan R&D, khususnya di industri semikonduktor dan teknologi informasi. Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan (TSMC) merupakan contoh keberhasilan Taiwan dalam menciptakan teknologi kelas dunia.
Bagaimana dengan Indonesia? Setidaknya Indonesia harus mulai menetapkan bidang dan sektor utama industri yang menjadi prioritas. Kriteria prioritas bisa didekatkan dengan kebutuhan ekspor, penciptaan lapangan kerja-padat karya. Kedua, kebutuhan Indonesia melakukan transisi energi menjadi energi terbarukan dan energi hijau. Ketiga, urgensi mendukung perbaikan skala luas untuk bidang kesehatan – vaksin, alat kesehatan, modernisasi rumah sakit dan pendidikan kodekteran. Keempat, urgensi untuk mengolah SDM Indonesia menjadi angkatan kerja abad ke-21.
Bagaimana dengan Indonesia? Pertama, Indonesia harus mulai mengidentifikasi dan menetapkan industri dan sektor utama yang menjadi prioritas. Kriteria untuk prioritas ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan ekspor dan penciptaan lapangan kerja padat karya. Kedua, Indonesia perlu segera beralih ke sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan (energi hijau). Ketiga, ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan sektor kesehatan dalam skala luas, dengan fokus pada vaksin, peralatan medis, modernisasi rumah sakit, dan pendidikan kedokteran. Keempat, terdapat kebutuhan mendesak untuk mengembangkan sumber daya manusia Indonesia untuk memenuhi tuntutan tenaga kerja abad ke-21.
Aspek penting dalam reindustrialisasi Indonesia adalah pendekatan strategisnya. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri atau hanya mengandalkan badan usaha milik negara (BUMN). Oleh karena itu, kemitraan dan kolaborasi dengan sektor industri dalam negeri sangat penting, disesuaikan dengan kapasitas, teknologi, dan bidang keahliannya. Misalnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, universitas, badan usaha milik negara, dan perusahaan swasta sangat penting untuk mengembangkan inisiatif energi terbarukan atau energi hijau. Selain itu, kemitraan diperlukan untuk memproduksi peralatan medis canggih, seperti mesin MRI dan alat bantu pernapasan, yang sangat dibutuhkan. Kolaborasi juga diperlukan dalam pengolahan produk pertanian dan perikanan untuk pasar ekspor dan domestik, termasuk cokelat, kopi, dan makanan laut. Pada akhirnya, membina kemitraan untuk menciptakan 50 juta pekerja terampil melalui pelatihan vokasi dan magang industri sangat penting.
Referensi
Hingga Juli 2024, utang Indonesia sudah mencapai Rp 8.502,69 triliun. Naik Rp 57,82 triliun dalam satu bulan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus stagnan di level 5,05 persen secara tahunan.
Tipologi oligarki di Indonesia sangat kompleks dan melibatkan interaksi antara kekuatan politik, ekonomi, dan sosial. Di Indonesia, terbentuknya oligarki modern terjadi selama ekspansi kapitalisme pasar di bawah pemerintahan otoriter Soeharto (1966-1998).
Indonesia memiliki peluang untuk mengikuti jejak industrialisasi Korea Selatan dan Taiwan sebagai peta jalan untuk menjadi negara maju. Model industrialisasi kedua negara ini dapat menjadi referensi berharga bagi Indonesia dan negara lain yang ingin mencapai kemajuan serupa.
Agar selaras dengan prinsip perpajakan yang adil diperlukan penerapan sistem pajak progresif untuk orang kaya. Kebutuhan penerapan sistem pajak progresif ini sangat mendesak.
Sejak tahun 2021, the Prakarsa bersama jejaring Tax-Justice Network di tingkat internasional mengampanyekan penerapan pajak kekayaan secara global. Implementasi pajak kekayaan semakin menemukan relevansinya di tengah krisis ekonomi global yang diakibatkan krisis iklim, perang, dampak pandemi Covid-19, dan pertarungan dagang antarnegara.
Empat negara anggota OECD ini sudah menerapkan pajak kekayaan, yakni Swiss, Norwegia, Prancis, Italia. Pengalaman empat negara tersebut bisa menjadi pelajaran yang baik bagi negara-negara lain yang mempertimbangkan akan menerapkan pajak kekayaan di negara masing-masing.
Oligarki di beberapa negara memiliki tipologi atau karakteristik yang meliputi aspek konsentrasi kekayaan, pengendalian media massa, dan pengaruh kepada sistem hukum. Infografis ini memberi gambaran perbandingan tipologi oligarki di Rusia, Venezuela, dan Indonesia.
Lima negara ini dinilai berhasil menerapkan demokratisasi ekonomi untuk mengurangi pengaruh oligarki di negara masing-masing. Kelima negara tersebut adalah yaitu Korea Selatan, Argentina, Selandia Baru, Taiwan, dan Chili.
Beragam solusi diterapkan oleh beberapa negara dalam rangka demokratisasi ekonomi dan pemerataan. Amerika, Inggris, dan Australia, misalnya, membuat dan melaksanakan Undang-Undang Perampasan Aset untuk mencegah dan memiskinkan koruptor.