Muktamar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ke-6 yang digelar di Bali pada 24-25 Agustus 2024 sudah usai. Muhaimin Iskandar atau Cak Imin terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum PKB periode 2024-2029. Cak Imin dinilai berhasil memimpin PKB periode sebelumnya, antara lain meningkatkan perolehan suara pada Pemilu 2024. Presiden Konfederasi Syarikat Buruh Muslimin Indonesia, H. Irham Ali Saifuddin, M.A., punya catatan tersendiri tentang prestasi Muhaimin Iskandar saat menjadi Kemenaker RI. Kepada Laras Ayu Palapasari dari RPK, Irham Ali Saifuddin mengungkapkan peran Muhaimin Iskandar dalam kelahiran Konvensi tentang Pekerja Rumah Tangga. Berikut pertikannya.
Kami berharap, capaian PKB selama ini termasuk capaian elektoral, yang naik drastis pada periode ini, PKB ke depan semakin kuat di parlemen. Capaian itu sekaligus mewarnai arah kebijakan eksekutif selama lima tahun ke depan, terutama untuk perbaikan isu ketenagakerjaan dan tentu kelas buruh. Saya kira masih banyak PR yang terkait dengan masalah ketenagakerjaan, salah satunya yang selama ini jadi concern konfederasi Sarbumus adalah masih tingginya pengangguran tenaga kerja muda di Indonesia. Angkanya mungkin sekarang masih sekitar 21 persen, termasuk yang paling tinggi di Asia. Tentu ini hal yang perlu dijalani secara serius dalam bentuk kebijakan, termasuk juga implementasi dan kontrol kebijakan.
Kami berharap banyak pada PKB, terlebih dalam konteks bahwa sebenarnya Indonesia memasuki era bonus demografi, yang nanti puncaknya akan terjadi sampai tahun 2032. Bonus demografi ini tidak akan optimal apabila pengangguran tenaga kerja muda kita masih tinggi. Saya berharap PKB yang selama ini secara konsisten mendapatkan kursi di Kementerian Ketenagakerjaan, bisa menghadirkan formulasi yang solutif terhadap masalah-masalah ketenagakerjaan kaum muda ini.
Dengan demikian, bonus demografi ini benar-benar bisa terjadi. Belum lagi nanti ditambahi dengan kompleksitas karakter Gen Z yang mungkin agak berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Ini akan menjadi tantangan khusus termasuk juga perubahan di dunia pekerjaan yang semakin kompleks. Tantangannya semakin besar, pengaruh teknologi digitalisasi, dan lain-lain. Tentu ini akan membuat produksi jumlah tenaga kerja kita tidak akan pernah bisa sebanding dengan penyerapan mereka di pasar kerja. Itu harapan yang pertama.
Harapan yang kedua, saya kira PKB bisa terus berjuang untuk isu-isu kelas pekerja pinggiran. Saya sebut pinggiran karena selama ini mereka biasanya dikategorikan sebagai pekerja informal, misalnya pekerja rumah tangga , pekerja migran, atau pekerja-pekerja di sektor tradisional: pertanian, perkebunan, perikanan, dan lain-lain. Saya kira ke depan harus ada atensi khusus dari PKB. PKB ini salah satu kontributor terbesar adalah kelompok masyarakat di lapisan itu. Saya kira kita perlu mengapresiasi apa yang sudah dilakukan oleh Ketua Umum PKB Gus Muhaimin Iskandar dalam kapasitasnya sebagai Menteri Ketenagakerjaan waktu itu.
Pada tahun 2011, Bapak Muhaimin Iskandar datang-hadir di sidang tahunan ILO (Organisasi Buruh Internasional). Namanya ILC (International Labour Conference) atau Sidang Perburuhan Internasional, saat itu ditemani Pak SBY. Indonesia saat itu menjadi bagian penting dari lahirnya Konvensi Pekerja Rumah Tangga. Konvensi ini merupakan aturan internasional yang pertama kali di dunia, yang memberikan rekognisi dan perlindungan hukum bagi pekerja rumah tangga sebagai pekerja. Sebelumnya pekerja rumah tangga tidak diakui sebagai sebuah pekerjaan. Makanya kemudian mereka tidak mendapatkan hak-haknya sebagaimana pekerja yang lain.
Saya mengetahui persis situasinya karena saat itu saya masih bekerja di ILO. Ketika konsultasi triparted, posisi pemerintah dan organisasi pengusaha, dalam hal ini adalah Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), tidak menyetujui lahirnya Konvensi PRT. Yang menyetujui hanya perwakilan organisasi buruh. Pada proses konsultasi yang terjadi di setiap negara termasuk di Indonesia, posisi Indonesia adalah sebelum ILC ini dilaksanakan. Pemerintah Indonesia tidak setuju atas lahirnya Konvensi PRT. Organisasi usaha juga tidak setuju atas lahirnya organisasi PRT.
Tetapi ketika kemudian Bapak Menaker saat itu berinisiatif untuk menyertakan Presiden RI SBY. Sebelum berangkat konsultasi, kepada kami, beliau bertanya mengenai situasinya seperti apa. Kita jelaskan bahwa konvensi ini sangat related. Sangat penting bagi Indonesia karena Indonesia salah satu negara penghasil PRT terbesar, baik di domestik maupun PRT di luar negeri yang bekerja sebagai pekerja migran. Kemudian saya kira, Pak Muhaimin Iskandar memberikan masukan kepada Presiden RI bahwa ini penting bagi Indonesia. Indonesia agar turut menjadi salah satu inisiator utama lahirnya Konvensi Nomor 189.
Pada Juni 2011, Pak SBY, Pak Muhaimin, berangkat ke sidang ILC di Genewa. Saat itu, Pak SBY memberikan special speech di depan sidang yang isinya antara lain menyerukan pentingnya solidaritas masyarakat internasional untuk memperbaiki kondisi dan kesejahteraan pekerja rumah tangga dan mengakui mereka sebagai pekerja. Sebuah speech dari Presiden RI itu menginspirasi banyak pihak. Sebagian besar unsur yang semula tidak setuju, terutama unsur dari pemerintah negara-negara anggota ILO dan unsur dari organisasi pengusaha, dengan seruan dari Indonesia ini kemudian menyetujui lahirnya konvensi pekerja rumah tangga yang kemudian menjadi Konvensi 189 on Domestic Workers tersebut. Cak Imin ketika jadi Menaker juga mengeluarkan kebijakan hari libur pada hari buruh Internasional (May Day, 1 Mei). Jadi, saya kira itu juga merupakan hadiah yang konkret dari pemerintah, yang saat itu Kemenaker dijabat oleh Pak Muhaimin Iskandar.
Gus Muhaimin ini merupakan salah satu pemimpin nasional yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama. Beliau lahir dari tradisi pesantren yang cukup kental kemudian selama di Yogyakarta ia mengalami pergulatan sebagai aktivis mahasiswa. Setelah itu, Gus Imin tampil di pentas internasional sebagai ketua umum salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia. Kemudian Gus Imin jadi Pimpinan MPR RI, Menteri, dan setelah itu jadi Pimpinan DPR RI. Jadi, saya kira sosoknya sudah komplet memenuhi segala prasyarat untuk menakhodai kapal parpol.
Di kepemimpinan Gus Dur (Abdurrahman Wahid) yang dilanjutkan oleh Gus Muhaimin, saya kira PKB sudah bertransformasi. PKB bukan saja menjadi partai politik yang eksklusif bagi warga NU saja, tetapi juga sudah menjadi lini combination yang menerima secara terbuka aktivis apa pun untuk bisa juga bergerak bersama-sama di PKB. PKB adalah partai yang lahir dari masyarakat bawah, kaum sarungan, yang setiap hari dihadapkan oleh persoalan kalangan bawah. Jadi, saya kira dari semangat pendirinya pun, PKB memang mengamanatkan itu untuk tetap peka terhadap kaum bawah, salah satunya membuka selebar-lebarnya aktivis-aktivis dari kelompok sosial dari elemen mana pun agar bisa menjadi sambungan aspirasi yang cukup dekat dengan masyarakat lapisan paling bawah.