Image
Mantan Presiden Ceko Vaclav Havel./Foto: Cineverse

Otoriterisme dan Pameran Dusta

ARTIKEL POLITIK | Oleh A.S. Hikam, Pengamat Politik | Published: 9 September 2024 |

Mantan Presiden Ceko, Vaclav Havel (1936-2011), yang juga tokoh pro demokrasi di era 90-an, menengarai totaliterisme dengan karakter pendusta:"Because the regime is captive to its own lies, it must falsify everything. It falsifies the past. It falsifies the present, and it falsifies the future. It falsifies statistics. It pretends not to possess an omnipotent and unprincipled police apparatus. It pretends to respect human rights. It pretends to prosecute no one. It pretends to fear nothing. It pretends to pretend nothing."

("Karena rezim [totaliter] ini tertawan oleh kebohongannya sendiri, ia harus memalsukan segalanya. Ia memalsukan masa lalunya. Ia memalsukan masa kininya, dan memalsukan masa depannya. Ia memalsukan statistik. Ia berpura-pura tidak memiliki aparatus polisi yang kuat tetapi tidak berprinsip. Ia berpura-pura menghormati Hak Asasi Manusia. Ia berpura-pura tidak pernah menuntut siapa pun. Ia berpura-pura tidak takut apa pun. Pendek kata, ia harus senantiasa berpura-pura tidak sedang berpura-pura!")

Dua dekade pasca-reformasi, fenomena kedustaan penguasa tampak kembali di bumi Indonesia. Apakah kita akan menyaksilan kembalinya kekuasaan otoriter (kalaulah bukan totaliter) juga? Dusta telah menjadi bagian integral dalam wacana dan praksis politik di negeri ini sehingga cenderung seperti kenormalan. Pelanggaran etik tanpa malu dipertontonkan oleh elite penguasa dan diamini oleh para pendukungnya.

Dusta sudah menjadi sebuah penampilan dari banalitas kejahatan (the banality of evil) yang ingin dipamerkan oleh elite. Tanpa malu. Dan rezim politik yang menopangnya akan menjadikannya sebagai petunjuk dan SOP dalam praksis.