
Idealisme Raharja Waluya Jati, Aktivis Pro-Demokrasi 90-an, Tak Pernah Luntur

Aktivis yang pernah jadi korban penculikan 98, Raharja Waluya Jati, telah tiada. Jati, begitu panggilan akrabnya, meninggal pada 8 Agustus 2023 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Almarhum dimakamkan di TPU Karangmojo (eks. makam Komperta) Purwomartani, Kalasan Sleman, pada Rabu 9 Agustus. Sebelumnya jenazah disemayamkan di rumah duka, Dusun Karangsari RT 08 RW 32, Kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman.
Sebelum meninggal, Jati menjabat Sekjen Sekretariat Kolaborasi Indonesia (SKI) yang merupakan tim relawan Anies Baswedan.
Bagi kawan-kawan seperjuangannya, Jati dikenal sebagai aktivis pro-demokrasi 1990-an yang tak pernah luntur idealismenya. Ia adalah salah satu korban penculikan aktivis mahasiswa pada tahun 1998. Semasa kuliah di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, bersama Andi Munajat (almarhum), Jati turut mengelola majalah mahasiswa di kampusnya, Pijar. Ia pun aktif di gerakan mahasiswa mulai awal 1990-an. Ia anggota Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID) cabang Yogyakarta.
Pada tahun 1998, Jati bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pimpinan Budiman Sujadmiko. Pada 12 Maret 1998, usai menghadiri acara di YLBHI, Jati dan Faisol Riza diculik sejumlah orang di lantai 2 UGD RSCM. Setelah mengalami penyiksaan berat, dipukul, disetrum, ditendang, Jati dan sejumlah aktivis dibebaskan pada 25 April 1998.